Mistik (2) misteri " Hujan Linggis",

Sebuah peristiwa luar biasa ditorehkan oleh keadaan mentalitas trauma dalam perjalanan hidup masyarakat kampung (sekali ini saja, insyaAllah...amin), penyebab keadaan yang tak biasa ini mengantarai lahirnya sebuah istilah di kampung Pallantikang Maros, (terdapat juga keadaan serupa di beberapa tempat di kab. Maros), tetapi penulusuran kali ini di sebuah area yang dulunya di jadikan sebagai tempat Pelantikan Raja-Raja Marusu, hingga nama kampung secara arbitrer yaitu “Pallantikang Butta towa.

saksi peristiwa berita
Tersebutlah istilah “bosi pakkali”/hujan linggis dalam bahasa Bugis, atau dengan istilah lain yang serupa keadaannya, ketika masyarakat kampung menyebutnya dengan “jemme’-jemmeng”atau dalam bahasa Bugis yang berarti “kampung terasa lembab”, Untuk peristiwa ini hanya ingin menyampaikan suatu makna kehidupan, yang mungkin anda sepakat, atau mungkin ragu, atau mungkin no comment, atau bahkan tak sepakat, Nah agar tidak sulit untuk beragumentasi, pandangan ini tidak saya tujukan bagi yang tidak sepakat, saya hanya menyampaikan bagi yang sepakat, atau ragu atau no comment, agar direnungkan saja.

Jemme’-jemmeng atau bosi pakkali dua teks bahasa Bugis, yang mengindikasikan peristiwa populer ini, menerangkan tentang lemahnya fisik masyarakat kampung dalam seminggu itu, yang terjadi secara jamak atau disebut: peddi banua /sekampung kesakitan.

Perihal awal dari peristiwa ini, oleh seorang sumber bernama Daeng Colleng menceritakan, “iyaro wettue na’, jaman na umpa pak kasim, (Bupati pertama di kab Maros), rimakkitana nyarang pute ri palattae…., “pada compa api rilise matanna”, na riwenninna sadda karemeni bokka asue, ribajannaro… ribajanna makkoro marrupa-rupanni tau malasa, silettureng matu mateni …dst.

terjemahan : zaman itu masih bapak Kasim sebagai kepala daerah, awal peristiwa yang kemudian menelan korban yang banyak berikutnya , telah kami melihat tanda yang tidak biasa , yaitu sebuah kuda putih yang yang sedang merumput di ladang kami di pinggir sungai Marusu, terhadap orang yang melintas mata kuda itu menatap sangat tajam seolah-olah keluar apai pada biji mata kuda tersebut, di malamnya pun kami mendengar lolongan anjing yang membuat bulu kuduk berdiri, sebuah isyarat yang sangat jelas akan terjadi sesuatu, pada keesokan harinya, maka mulailah penduduk merasakan kesakitan yang berbagai macam bentuknya mulai dari muntaber, stroke bahkan terdapat penduduk kampung yang tertabrak mobil, dengan sebab yang sederhana.

Hujan linggis : seolah-olah linggis jatuh dari langit selama seminggu, Akhirnya kami tetap mencukupkan dua sumber tentang peristiwa ini, selain dekat ke dua tempat bertamu sumber juga suasana sejuk di desa tersebut sebabkan kami bersama crew peneliti berasa betah, haha...disuguhkan kopi hitam depan pekarangan rumah dengan  banyak pohon-pohon rindang, sungguh lingkungan di Pallantikang ini sangat nyaman meskipun summer time telah tiba.

Pengantar kami rupanya sudah duluan tahu cerita-cerita itu, bahkan belakangan saya tahu kalau ia sudah beberapa kali mengalaminya sendiri. Tapi tak pernah mau menceritakannya ke orang lain, karena menurutnya kalau ia ceritakan kembali prasaan trauma itu menghantui ketakutan masyarakat kampung tersebut, sumber lain mengatakan “pada siang hari dengan mengusung banyak mayat kekuburan, dan malam-malamnya diliputi rasa takut termasuk kalau-kalau ada yang sakit perut, atau sakit apa saja…, merehat dan mengurangi perasaan cemas, pada malam harinya masyarakat keluar dari rumah dan menghibur diri dengan berkumpul-kumpul sesama tetangga “massumange..sipakarennu-rennu”, (bersemangat dan saling bergembira) yang diikuti/ diiringi dengan musik gambus, sambil mewanti-wanti juga jika ada teriakan tetangga bahwa “ada yang sakit” kemudian keadaan ini sangat memungkinkan ia kemudian menghembuskan napasnya terakhir kali. 
hujan linggis 1999: nanre sai'
Terkatakan pula bahwa, dokter pada waktu itu juga kewalahan dengan banyaknya pasien, katanya sampai detik ini belum hilang perasaan trauma tersebut, jika mengingat peristiwa itu sebab keluarga saya waktu itu juga dalam seminggu itu “nanre sai’”/ mengalami giliran mati tiba sebab muntah darah.

Tampak aktifitas pedagang tomat dan sayur sejak sorenya (tak seperti biasa) menyimpan tuk benahi daganganya besok, ia lakukan di atas rumah, yang biasanya disimpan saja dibawah kolom (rumah-rumah masy Bugis-Makassar model panggung). Menjadi kesepakatan tak tertulis akibat trauma kematian yang berlangsung bergilir dan cepat itu, maka masyarakat yang berlokasi di dalam kampung (tempat jemme’-jemmeng tersebut) jika hendak keluar kampung maka ia membuat sebuah jalan baru, sedang masyarakat kampung sebelah yang biasanya melintasi kampung tersebut pun membuat lintasan baru dengan jalur melewati pinggir kampung tempat sarang musibah tersebut dalam upaya tidak terkena atau tercemari musibah kampung tersebut.

Seseorang pernah tak mengindahkan hal tersebut, ia melintasi jalan seperti biasa setiba di rumahnya, dijelaskan dalam bahasa Bugis, “malotongngi ale-alena/ seddi ale silettureng makkalisi I matanna”, terjemahan :tubuhnya- seluruh tubuhnya menghitam dan matanya tampak menyusut“ .

Berselang sebulan kemudian setelah peristiwa ini terhenti, keadaan kembali menjadi normal, seorang Galla (tetua kampung), sebutlah nama galla tersebut adalah H. Tunru, meneliti perkembangan keadaan sebelumnya atau adakah sebab-musabab sehingga keadaan ini tidak terjadi lagi kemudian hari?, perhatian dan penerawangan pun tercurahkan (sebab pengetahuan agama : galla tersebut dapat melihat langsung wujud seperti apa kondisi keadaan masyarakat dan adakah kaitan mereka dengan roh-roh halus tersebut, atau dengan hal rasional bahwa apakah keadaan ini sebab kehidupan tidak bersih sehingga rentan kena penyakit ?...berikut ke catatan 3*link draft-penelitian-budaya
_______
Crew Budaya Pappaseng, telusur jejak Bosi Pakkali,di Pallantikang Butta Towa
*masuknya makhluk jahat lewat perdukunan dan gejala kurang bersih juga sakit merupakan tempat tumbuh subur makhluk halus tersebut.(sebuah pandangan pahaman agama Islam yang terkait juga dengan hadits-hadits dari Nabi tentang Kebersihan
Peliput crew : Kaimuddin mbck "Pallantikang Butta Towa..dalam "hujan Linggis-

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar