" mistik " puisi ngeri kata-nya

Pikiran mistik..perasaan ngeri, hal yang selalu ada jika kau mengindahkannya, dan langkah ke puisi mistik hari ini anggaplah sebagai pikiran  positif, bukan sebaliknya . Kata  Dr. Ibrahim Elfiky dalam bukunya Terapi Berpikir Positif mengutip sebuah tulisan ilmiah bahwa setiap hari manusia menghadapi lebih dari 60.000 pikiran. Satu-satunya yang dibutuhkan sejumlah besar pikiran ini adalah PENGARAHAN. Jika arah yang ditentukan bersifat negatif, maka sekitar 60.000 pikiran akan keluar dari memori ke arah negatif. Sebaliknya, jika pengarahannya positif, maka sejumlah pikiran positif juga akan keluar dari ruang memori ke arah yang positif.

 Termangu di sudut ruang memandangmu "ujung bajumu yang tampak itu adalah gerak halus memainkan angin", aroma kiang hening dan GELAP, kau seolah acuh dan semakin memenuh ruang, sepersekian detik sebuah  irama terdengar seakan tiba dari lubang gunung yang dalam...mendengarnya kumenjalar ....pada (seolah) "rangkain peristiwa yang coba kau jelaskan dengan warna gelap...bau dupa dan suara..". Sekali lagi semerbak aromamu ..aku bisu tergenggam dengan mata belalak tak berkedip_

Gambaran neraka tak lain kecuali suara desis..dari orang tersetrika di belakangnya, suara krek patahan tulang dari tempahan batu besar yg menggelinding, atau sesuatu telah di cabut dari tubuhmu, kau mengerang...tapi tak terdengar, suaramu bahkan melemah dan sebuah cekik, ada yang menganga dan menjulurkan lidah, kau kemudian debu yang harus di bentuk ulang lagi seperti sedia kala demi "jeritmu abadi"

Takjub

Biar saja ia melekat…
Pada sesuatu yang tersirap kekanvas jiwa,
serasa tiba-tiba mengenakan kepakkepak senja,
ke simultan senyum yang rahim
ta’ siapapun menangkap itu sebagai makna,
tapi kulihat ada yang menunggu hidup dan mati….deras indahmu sekali ini,
ia pulang ke segala samudera, sebuah pemandangan di ujung tanjung ia cari untuk di lukisnya sebagai takjub, (ini berlebihan )
tapi------
ketika embun turun membekukannya ia tetap
bersimpuh dalam lukisan tersebut.
______________________________________________________________
Puisi Mistik
"Ibu_
                      -Kenangan terakhir pada ibu ketika aku lara di batu nisanya.
Malam ini remang, mata itu.........lekat memandangku,
sejenak...,tubuhnya kedekatku berbaring
jelas garisgaris lelah di wajahnya.
tanganku bergerak, mengusap bekas luka di punggungnya.

aku menyuapnya nasi, tak ditelan,tapi.......mulutnya terus menganga
"ibu...,takut kematian nak,"katanya
Aku tetap disini,walau tak mengerti,
"bukankah,ibu telah lama mati....?

Maros,19.05.08
Puisi Mistik

"Tapi Mata tak punya kelamin--
*nasihat pada bujangan)
Mata,selalu menyihir apa yang terlihat didepanya dan dengan terpaksa kau menerima saja sebagai nasib,“resah atau senang”, yang di gambaarnya.

Ucapnya di suatu waktu, “lihat… aku lebih menerobos dari angin, lebih cepat dari cahaya dan mungkin saja aku lebih peka dari perasaanmu, bukankah dalam tidurmupun aku lah yang berkisah sesuka hatiku?

Lagaknya pada ayam yang mengais cacing tanah, “matahari itu sungguh tak faham ya..jika rembulan, adalah bidadari yang sedang hamil, demikian pula cacing yang baru saja kau telan sungguh… tidak mempunyai mata

Tapi, aku benci pada cacing,“ sebab dia mempunyai dua alat kelamin”.

Maros.15.12.08
Diposkan oleh kaimuddin Mabbaco Jam
Label: Puisi Mistik

*lima menit sebelum kau di sekap dalam tabung seolah tanah mengering, derik suara pintu sekap terbuka, asap...dan ular licin menjulur-julurkan lidahnya disertai liur, sebegitu hening dan gelap, kau "mengenal tempat itu "setelah sebelumnya tulang-tulangmu disatukan dari perut ular tersebut, tanpa sekap-pun...kau telah hanya tahu : ular..dingin dan jeruji dalam sekap yang menusuk mata, leher dan kemaluan hingga pantat.

 

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar