tradisi unik nusantara : telah punah

”Bangkara Ta′rowe” istilah yang terdengar aneh, ya sebuah inisial yang menggambarkan keadaan seorang ibu menggunakan anting panjang yang menggantung, mirip wanita pedalam di vietnam tapi sekali ini, pemandangan itu terlihat dari masa lampau di Kab.Maros.

Tradisi lain yang juga punah dari wilayah ini, tak lain ketika seorang raja bersama masyarakatnya berkunjung ke pesisir untuk menikmati pemandangan laut sedang air dalam keadaan surut, ya Masyarakat lampau Sulawesi Selatan menyebutnya dengan" A’Resa Resa", bermula dari panorama yang indah disebuah pesisir, ketika air sedang pasang surut nampak jelas pasir putih diantara sekumpulan tebaran kerang, pun angin dengan manja menarik-narik ranting kelapa seakan telah terjalin persahabatan masa lalu, adalah panorama di sebuah pesisir daerah Bontoa Maros, menelusuri jejak ini seakan mengembalikan jeda kenangan kita pada masa lalu, tatkala seorang raja merindukan suasana pantai, tempat rekreasi tepat ketika air sedang pasang surut, maka tepian pantai ini merupakan saksi dimulainya tradisi A Resa-Resa.
Makna tradisi "a' resa resa" ini, menunjukkan gambaran keterbukaan, keterpeliharaan hubungan baik
atau kedekatan komunikasi secara intens antara masyarakat dan pejabat  kerajaan yang terjalin secara harmonis  dengan (masyarakat) menyampaikan pesan-pesan dalam bentuk syair atau elong-elong tepat ketika raja sedang gembira.( tradisi unik nusantara : telah punah--



Litografi istana raja Gowa di tahun 1880-an
Serombongan masyarakat budaya yang terpimpin oleh raja mulai beranjak maka, arak-arakan pun bergerak dari rumah kediaman ke pesisir pantai, tampaklah raja dikelilingi oleh gadis-gadis memakai “Baju Bodo merah”, (sebagai salah satu warna yang lumrah dipakai oleh masyarakat berstratifikasi Tu Deceng dan Ata kecuali warna hijau,kuning dan ungu adalah warna pakaian milik keturunan bangsawan ), kostum adat baju bodo tersebut yang dipakai oleh gadis-gadis, terpadu dengan asesori khas yang menggantung ditelinga para gadis, dikenal dengan nama ”Bangkara Ta′rowe” atau anting panjang yang menggantung.
 

Rombongan gadis- gadis yang menengai pembesar negeri itu, senandungkan lagu “Kadang Dio”, ungkapan elong-elong tersebut, merupakan simbol kebahagiaan dan pemanjatan doa-doa bagi raja dan kelestarian alam yang disampaikan dengan lagu berbahasa Makassar. Sejuk aura pantai, seakan melupakan waktu yang terus bergulir, suara mereka terdengar saling bersahutan dan berbalas-balas, senandung lagu tersebut kadang terdengar lembut, datar kerap pula melengking. Lagu “ Kadang Dio “|tersebut diiringi oleh “kacaping” (kecapi –alat musik petik khas Sulawesi Selatan bentuknya menyerupai perahu) terkadang dipadukan dengan gambusu (alat musik resitas dengan cara dipetik ala kecapi dengan dawai menggunakan tali nilon) sebagai melodi, adapun irama lagu, temponya diatur oleh ritme suara Rabana.
Beberapa saat kemudian, panorama pantai surut tersebut, teriring dengan teriakan gadis-gadis yang kakinya teriris oleh kerang-kerang yang memenuhi pasir putih, keharmonisan itu berjalan tanpa kendali menggenapkan keindahan dirinya sebagai alam pa’ resa-resakkang.
 

Pesan-pesan kultural masyarakat budaya ini, alamat mengemukakan curahan hati kepada pemimpinnya, tanpa merasa terbebani akan konsekuensi dari kesalahan berbahasa juga dapat terjadi berupa permintaan sesuatu kepada raja negeri ini  
:sebuah keterbukaan komunikasi yang dapat di tandai dengan kemajuan sebuah kearifan peradaban, hal ini terkait juga dengan bangun syair dari rangkaian pappaseng yang dicipta oleh masyarakat lampau Kab. Maros tsb.

Mengalihkan masalalu itu  ke masa kini sebaiknya, sebuah generasi di harapkan tumbuh secara natural oleh sebuah sistim yang mencipta kondisi "bebas menyampaikan pendapat", demi sesuatu yang juga harus tumbuh sebagai kompleksitas /farian dari hidup ini, "ri paui mattake-takke, na simata macinnong ri mangkalingae nasaba pada tana ri lettuki.
 

Sebab sumber Dg.Teka dari daerah pesisir kampung Rea-Rea, Bontoa Maros, teks lagu kadang dio ini sampai pada peneliti. Adapun salah satu teks lagu tersebut seperti berikut ini ;
 

Anne naung turungangku daeng, Labuangku masinoaIa mammalo, Ia sengka a’resa-resa’,Inakke tama pa’risa, Rima lette’ labuanna, Lanri ngallenu, Gusung pa’resa’ resakkang
Odende karaengku a’ mata jamarroIkambe laninring nakku antayang rigusung dalimaAmmio nawa-nawa riesa’na tamparangMattamparang mami pangngadakkangAppakalabbiri ammuntui a resa-resa
 

Tradisi ini menampilkan suatu keadaan kerajaan yang terletak dekat dengan pesisir pantai dan dalam kegiatan ini terjadi kedekatan komunikasi secara intens antara masyarakat dan pejabat pemerintahan atau kerajaan, 
Sebagai bentuk revitalisasi budaya jika tidak karena sumber awal (Andi Radja Karaeng NaI) tentulah tradisi ini terputus atau tak diketahui masyarakat belakangan karena hempasan gelombang hiruk pikuk perjalan sejarah bangsa, serta kerasnya gelombang arus teknologi informasi yang melumpuhkan semua sendi dan akar tradisi bangsa ini_
------------------------------
kaimuddin.mbck ~Revitalisasi Budaya Lokal Maros.

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar