Korban/qurban & Idul Adha : Cara Nabi

Esensi ibadah qurban terletak pada distribusi hewan qurban
 kepada orang-orang yang tidak mampu agar mereka memiliki perbekalan makanan pada hari raya idul Adha dan hari tasyrik. Idul Adha atau hari raya korban mengajarkan arti penting sebuah 
keyakinan dan pengorbanan.


Ibadah qurban untuk mendekatkan diri pada Allah Swt, ujud nilai-nilai sosial (solidaritas sosialnya) tetap terpelihara, dengan harapan pemberian daging kurban diharapkan kaum miskin bergembira dalam merayakan idul Adha.
Syaikh oleh   Abu Bakar  Jabir al-Jazairi dalam minhaj al-muslim, meringkaskan pentingnya hal ini dalam i'tibaa /mengikuti cara nabi-
  1. Hukum Sholat ‘Idul Adha adalah sunnah muakkadah (Sunnat yang sangat dianjurkan).
  2. Sholat ‘Idul Adha dilaksanakan lebih pagi daripada sholat ‘Idul Fitri, sehingga memungkinkan orang-orang menyembelih hewan qurbannya.
  3. Disunnahkan mandi, memakai minyak wangi, dan mengenakan pakaian bagus.
  4. Tidak makan kecuali setelah sholat ‘Idul Adha.
  5. Mengumandangkan takbir pada malam kedua hari raya. Khusus hari raya ‘Idul Adha dilanjutkan sampai penghabisan hari-hari tasyriq. Lafaz takbir adalah allahu akbar allahu akbar (hanya dua kali), lailaha illallah wallahu akbar, allahu akbar walillahilhamd.
  6. Berangkat ke tempat shalat melalui suatu jalan dan pulang melalui jalan yang lain seraya mengumandangkan takbir.
  7. Shalat hari raya dianjurkan atau hendaklah dilakukan di padang pasir atau di lapangan terbuka kecuali darurat seperti hujan dll.
  8. Boleh mencukupkan makanan, minuman, dan mengadakan hiburan yang mubah.(yang dibolehkan).
  9. Tidak ada adzan dan iqamat.
  10. Melakukan takbir tujuh kali (termasuk di dalamnya takbiratul ihram) pada rakaat pertama, enam kali pada rakaat kedua (termasuk takbir intiqal=takbir pindah gerakan) atau lima kali apabila takbir intiqal-nya tidak dihitung. Dilakukan dengan suara nyaring (keras)
  11. Sunnah membaca surah al-A’la pada raka’at pertama dan surat al-Ghasyiyah atau asy-Syams pada raka’at yang kedua.
  12. Khutbah dilakukan dua kali dengan duduk sebentar di sela-sela khutbah.
  13. Khutbah didahului dengan pujian dan sanjungan kepada Allah swt. (bukan didahului dengan takbir). 
Penjelasan-penjelasan tentang Kesalahan dalam Sholat. (Kami) mengutipkan yang berbeda dengan pendapat di atas. Adapun poin yang tidak dikutip lagi karena halaman yang terbatas. Dari Abu Ubaidah Masyhurah bin Hasan bin Mahmud bin Salman (al-Qaul al-mubiin fi akhthaai al-mushallin)
 
1.Hukum sholat dua hari raya adalah Wajib ‘ain, kecuali ada halangan syar’i seperti sakit. Tidak boleh mengangkat kedua tangan dengan hitungan takbir tujuh kali pada raka’at pertama dan hitungan takbir lima kali pada raka’at kedua, tetapi Ibnu Umar menurut Ibnu qayyim  mengangkat kedua tangannya pada setiap takbir. Ibnu Munzir juga berkata bahwa malik berkata; ‘…barangsiapa yang ingin mengangkat kedua tangannya pada waktu takbir tidaklah mengapa, tetapi pendapat pertama (tidak mengangkat tangan) lebih aku sukai.

2. Tidak sholat sunnah qabliyah (sebelum sholat ‘Idul Fitri maupun sholat ‘Idul Adha) dan tidak ada sholat sunnah ba’diyah (sholat sunnah setelah ‘Id). Syaikh al-Jazairi tidak menjelaskan hal ini dalam bukunya.
    Tidak ada perkataan as-shalatu jaami’ah, ketika memulai sholat ‘id. (Syaikh al-Jazairi tidak menyinggung masalah ini dalam bukunya)

3. Tidak boleh merayakan malam kedua hari raya.
4. Tidak boleh memulai khutbah dengan takbir dan membaca takbir berulang kali._5. Khutbah hari raya hanya satu kali, bukan dua kali dengan menyelingi di antara dua khutbah tersebut dengan duduk.
_____________________
Referensi (di peta-kan oleh Kaimuddin mbck)
*Abu Bakar  Jabir al-Jazairi dalam minhaj al-muslim
*Abu Ubaidah Masyhurah bin Hasan bin Mahmud bin Salman (al-Qaul al-mubiin fi akhthaai al-mushallin)

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar