Musik Balada di Trans bersama "KOPEL" :wajah pendidikan

Pentas Musik Balada di acara KOPEL" (Komisi Pemantau Legislatif), ya ku cerita banyaklah lewat Suntingan-suntingan syair juga puisi dengan iringan lagu atau semacam musikalisasi puisi.
 
*Sebuah pengertian berbunyi bahwa :segala seni kreatifitas, simpulan pemikiran semestinya berakhir dipementasan, aktualisasi, berakhir di pagelaran , untuk mengukur standarisasi sebuah karya/menilai baik buruknya sesuatu itu. Tapi jangan mengindikasikan saya dalam pengertian tadi, karena sebuah suara dari telepon beberapa jam yang lalu meminta datang dan berapresiasi. Lagu Balada , dengan iringan musik akustik*kau petik gitar nyanyikan lagu perlahan…..teruslah bernyanyi untuk kemanusiaan, karena…..dan seterusnya.*,( teriakku tentang kegelisahan dana pendidikan yang carut-marut.......Dari Mimbar/tempat ini telah dibicarakan pikiran-pikiran dunia, Suara-suara kebebasan tanpa ketakutan, Dari mimbar ini dibicarakan lagi sejarah kemanusiaan, Pengembangan nilai kemasyarakatan tanpa ketakutan,  Di tempat ini telah dipahatkan kemerdekaan, Segala, despot dan tirani tidak boleh  merobohkan mimbar rakyat ini, Kusebut Tirani dalam Ismail Marzuki.

Tapi sesuatu yang kita bangun  hari ini ….dan Dilur sana ….yang tanpa batas , tanpa akhir… mungkin kita !, tetaplah orang-orang kalah tak bisa bicara,  lagu balada ”menanti batas…..batas segala yang tidak ada batasnya, menanti akhir…akhir segala  yang tidak ada akhirnya, waktu berlalu waktu berpacu)

 Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini , Tidak ada pilihan lain. kita harus berjalan terus, karena berhenti atau mundur berarti hancur,Apakah akan kita jual keyakinan kita,Dalam pengabdian tanpa harga, Akan maukah kita duduk satu meja,Dengan para pembunuh tahun yang lalu, Dalam satu kalimat yang berakhiran,”Iye Karaeng, Iye Puang ?”

Tidak ada pilhan lain. Kita harus berjalan terus, Pendidikan kita serupa bocah  bermata sayu, yang ditepi jalan,Mengacungkan untuk oplet dan bus yang penuh, Kita adalah berpuluh juta yang bertahu hidup sengsara, Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hawa, Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka, Kita yang tak punya kepentingan dengan seribu slogan, Dan seribu pengeras suara yang hampa suara.
(Lagu balada (dengan iringan percusionAku belajar melihatmu setelah matahari tak mengajarkan cahaya dan malam tak …….tapi ketika mereka…dst)

Tidak ada pilihan lain.kita harus berjalan terus. Di tempat ini telah dipahatkan kemerdekaan, mengLIRLAH….KARENA laut cukup pintar mengantarmu pada pantai yang tepat….. Siapakah guru para matahari ? Dia orang yang mengajarkanmu, menapaki ilmu sepanjang hari, Yang tak peduli pada uang Tapi berjuang bagi otak dan akhlakmu……..
----------------------------------
di abadikan sebagai teks Pentas oleh : crew Maros Budaya Pappsaeng

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar