kantin satra sebelum ke-lounching buku

Di kantin sastra sebelum launching buku, bahwa bakal ada yang hidup dari teks pappaseng dan kearifan lampau itu lewat pencatatan, observasi dan penelitian yang termaktub kelak dalam buku berjudul "Kearifan Budaya Lokal", bisa di tebak setelahnya mereka rame-ramelah cerita tentang keadaan pembelajaran "seni budaya lokal di kampungnya (Kabupaten Maros Sul-Sel)sekaitan dengan profesinya sebagai guru (mahasiswa tapi sudah ngajar), diskusi ringan mengalir dan penguatan awal pun dimulai tentang pentingnya keberadaan buku yang menjadi bagian dari jendela ilmu pengetahuan, dxan hal sederhana hari itu, sebab ada yang mo apresiasi baca puisi, ya  asyik lah...

nunggu dosen ya ngantuk
Mereka anak2 kantin sastra itu,  ikut dalam perhelatan sastra dan kampung budaya,  ketika itu di Kab. Barru, ya  (seolah senior) kuungkap sedikit tentang mutu sebuah karya sastra, sambil menunjukkan sebuah teks yang bagus, dari kumpulan "antologi puisi titipan langit", sesi berikut berubah bukan lagi tentang perihal lounching buku di esok lusa itu, tapi tentang perbincangan sastra dalam keberagaman,  dan problem sastra Indonesia pada abad ke-21.weeiiitss..."seperti jagoan saja".



Tapi kantin dalam lokasi STKIP ini merupakan suatu wadah ngumpul cerita sastra yang kemudian melahirkan banyak kegiatan sastra kampus secara intern. atau merupakan forum silaturahim, forum diskusi, seminar, bazar buku (kadang-kadang), sesuatu harus lahir dikampus tersebut atau kusebut saja tentang "Pengembangan Komunitas Sastra" hingga ke ruang produksi sastra juga budaya, aku senyum-senyum saja, tapi seperti melihat sebuah kebangkitan. Pengarang dan karya akan bermunculan demikian deras.haha...ha...atau Gayanaji ...

"tulislah segala-gala, atau seperti "tulis-tulis saja", hal yg kusebut kepintu pengentalan,  meski belum mapan, sebab peristiwa dapat di endapkan, kecuali kau tak menulisnya sama sekali", bilangku. Mereka bertanya tentang sastra pada kehidupan, pada dosen mereka dan pun bertanya pada senior sastra di Maros, salah seorangnya mungkin Lori Hendra jaya, dan kukira proses itu mengusung estetika ke pembelahan dan pengembaraan ke karyaan. tetapi seperti saudara Lory Hendra Jaya adalah seseorang yang membangun dirinya  dengan fakta tapi juga dengan fiksi, maka ia membelah dirinya ke dalam dua sosok yang bisa bertolak belakang atau saling melengkapi dalam mengarungi kesastraan itu, ....(kapan waktu dialognya kita sambung..
_________________
kaimuddin mbck, dalam temu sastra di kantin paling bajingan

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar