Lonteku ketika membaca surat itu, aku telah pergi

lonteku adalah gemerincing hujan kesedihan yang menandai masa lalu. kisah lonteku yang menjejak ke-seharian kita dari  bumbu-bumbu malam dan trotoar yang kita racik dari luapan zaman, dan surat itu.., yang kutuliskan untukmu tentu kau boleh menafsirnya sesuka hatimu, meski kau mengindahkan bahwa "aku sekedar bertahan hidup juga dengan cinta yang seadanya, ya…zaman sedang busuk sayang .., tidak ada lagi air mata untuk jalan hidup yang penuh ke-tidak terdugaan ini. Dengan ini, kukira  jiwa kita tetap hidup dengan  tanda baca dan  penuh terjal ......", sepeninggalku, pasti kau telah membuka suratku dan membacanya, setelahnya kau boleh membuangnya sesukamu.
Lonteku..., ketika membaca surat itu, aku telah pergi
Lonteku... setelah kau siuman dari susup sela hiruk-pikuk kota, akupun adalah waktu yang semakin menua dan kita memijak di padang ini penuh nyeri di ulu hati. Tanpa meninggalkanmu ?, aku kuatir tak dapat memanggulmu lagi di pundakku, tapi aku ingin terus mengenang semuanya...mengenang "kita"
    
 : "peluh, sakit juga kerinduan yang meletup-letup...", aku
        meminjam kalimatmu...
       "dalam keluh kita TAK butuh  mimpi kita hanya butuh menangis 
        lama-lama sampai...tak ada lagi  air mata untuk selain "kita".

Usai gerimis aku meninggalkanmu...pergi dengan senyum terakhirmu.
Sebagai bunga tidurmu :  kau tak perlu menyesal jika tak ada titipan juga kiriman bunga dariku, juga tak perlu tahu kemana sampai mimpimu, juga tak perlu menuliskan namaku atau namamu di halaman depan suratmu, kita telah cukup pergi untuk membaca luka, membaca sepi......(link kait sketsa-perempuan-jalang-interview.


Lonteku tersenyumlah ketika kau mengingat hari itu_
Kau berulang tahun dan menikmati benar kue coklat curianKu, setelahnya kau memberiku senyum sebagai isyarat, "belum membelikanmu gaun malam", perih …kupenuhi janjiku yang tertunda, sebab aku mencuri hatimu terakhir kali diantara teriak "maling....". Sebelum-sebelumnya, detik pertama itu terjadi. ketika kau rela ku  memanggilmu ‘dinda...’, kataku. "makasih dinda kau sembunyikan aku dari kejaran polisi", (sinonim lagu bang Iwan fls)

Aku terus menjaga harapanku untuk kelak memanggilmu ‘dinda’, sejak itu namamu adalah tempat... yang bisa kudatangi setiap saat tanpa ada yang marah, aku bebas berbisik apa saja dalam keluasan yang tak terbatas , mungkin kau tak mengenang peristiwa itu, tapi ingatkah kau saat aku mendesakmu dengan ciuman semburan api dan memelukmu hingga kau kesulitan bernapas, haha..ha... , ketika itu kau menyebutku sebagai "bajingan yang selalu nekat",  aku tak melupakan ini.., juga tak melupakan bahwa kau sudi kulecehkan, tapi tak sudi jika TAK penuhimu cinta, kita sama suka "saling melempar" di tempat tertentu, "awasss kau ya....?"

"Dinda...."(sebuah panggilan sakral yang kau pun ragu mendengarnya  hanya karena belum ada ikatan suci di antara kita), "dinda...(memanggilmu ke dua kali), mari melupakan hampa, selubung, terkungkung, melupakan ke asingan, termasuk melupakan dibunuh atau membunuh, mari  kita pergi, badai telah  memanggil-manggil  pertanda waktu tak hendak berhenti.

Sebelum saling melupakan kisah,  mari menuliskan  nama kita, pada kaca yang berembun itu, lukis pula-lah sepotong senyum diantaranya, karena  aku menerimanya sebagai sepotong senja dan itu tak pernah lengkap untuk terus mencari separuhnya, Lonteku....panggilan yang terdengar sangat manis, apakah karena kata-kata tersebut tetap membuatmu tersenyum , aku..... pamit, sekian isi suratku.
____________
kaimuddin mbck "perempuan malam / kisah Lonteku... pergi sebelum membaca surat

{ 4 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Anonim mengatakan...

"L........." Cantik gan.kkkk

nandar mengatakan...

yang bgmn itu dibilang "lonte" ???

Bloggermarost mengatakan...

menyedihkan... saya terharu ..

kaimuddin Mabbaco mengatakan...

lonte itu separuh setan ada tong sediki' malaikatnya....

Posting Komentar