Aksi Wisata Kuliner Maros PTB

Nganga di Pantai Tak Berombak/ PTB,  tak sepi dan bermagnet untuk kunjungan sore menjelang malam, sore dengan pejalan santai dan deretan gerobak jajanan juga cafe yang baru gelar. Bayang-bayang peristiwa hirukpikuk malam mulai meremang dalam kolam raksasa ini, ketika jam malam efektif  dengan tangan yang menarik-narik nongkrong di warung-warung juga cafe, emulsi keindahan malam terkatakan dalam bias lampulampu jalan dan warung yang memantul dan menerang  di seputaran danau buatan ini, ya sangat indah seolah pelangi yang menyembul dikegelapan. Menikmati waktu bersantai selepas rutinitas harian di area outdoor dengan penataan tanaman yang indah pada kirikanan jalanan masuk, juga dengan bangku terpanjang sebagai pembatas kolam yang pastinya memberikan kesan berbeda dibandingkan ketika anda mengunjungi cafe indoor.

Senja di PTB (Foto oleh Uno)



Ajakan secara jamak menyebutnya, "yu' nongkrong malam di PTB  kuliner...". Tawaran segala jenis buah untuk juice, ayam bakar, bakso, tahu isi bahkan hingga "lonte tengah malam", upsss... bencong pun tak terkecuali. Maka "tak berombak berarti tak menakutkan, agar kamu tahu yang sesungguhnya, bahwa ombak sebagai pelengkap kekuatan tak selalu kita harap". Tak berombak  ada yang mendefenisikan tempat menunggu kekasih yang datang bersama  ombak,  sesuatu yang turut memengaruhi perkembangan moral juga perekonomian dan  PTB adalah dunia tawar-menawar, baik dan buruk, gelap dan terang, ya sebuah pilihan hitam-putih yang berlangsung malam hingga dini hari.
 
Suasana nyaman dengan menu khas Bugis Makassar semisal Coto dan Pallubasa tersedia untuk memanjakan lidah Anda.
Sore itu boncengmu dengan  scooter tua taon 60-an,   melenggang di jalan-jalan tengah kota maros, tapi matahari sore ini kemana ya.., dan musim yang tak lekang meninggalkan jejak kemarau. Dari pinggir sungai Kassi Maros  menuju  wisata kuliner dengan ciri area kolam raksasa atau "Pantai Tak Berombak", terdapat  2 jalur, pilih lewat jalan poros tembus lampu merah atau lewat arus sungai belakang rumah tembus ke pantai tak berombak?, katamu "pilih lewat belakang sebab tanpa helm", tampak area sasana panahan juga tampak pasar rakyat jajakan bursa cakar/ pakaian rombengan dan belakang los panjang ini ditandai dengan catatan x muda-mudi malam ?, (kugunakan bahasa resmi ya..) : Tempat pilihan memengaruhi perkembangan perubahan sosial,  ketika jam malam tak lagi berlaku efektif bagi remaja pada sikap temu bebas di tempat gelap, ya...remaja saat ini lebih hang out di café sampai larut, catatan malam dan pergaulan yang tidak lagi hanya sebatas teman biasa namun mulai mengarah pada...?, ya kota yang mengubur luas jaman, sama-sama berdarah dan bahkan hilang oleh dahaga sepeminuman teh di bantaran kolam PTB, tanpa upacara tanpa tawaran, kecuali retak jalan dan kaki-kaki penuh daki atas era yang terlindas oleh simpony ambisi diri. Dari titik nol Turikale PTB Wisata Kuliner.
 

Memulai cerita ini menegas bahwa tematik peristiwa disini bukan perihal kebaikan dan keburukan, namun bagi yang suka nongkrong juga hibur diri pada nelangsa malam sebab "kappu" (bahasa Makassar terjemahan bete), maka sore hingga malam adalah waktu untuk PTB. Maros mulai gemerlap istilah populer untuk menunjukkan gaya hidup remaja dengan mendatangi tempat-tempat hiburan, mungkin juga serupa dengan istilah "dugem", dan lintasan mata ini menangkap dominasi  remaja yang sekadar kumpul dengan teman, mencari kenalan, menikmati musik, melepas penat, hingga minum minuman beralkohol di taman depan arah jalan poros, juga karokean hingga pagi pada stand cafe dan musik depan BPD, tak ketinggalan waria pada jam tengah malam menunggu dijajanin mungkin juga digagahi, wkwkwkw. ya sesi carut marut dunia di PTB bukanlah bekas luka menghitam, mungkin hal ini termasuk hingar-derap perkotaan zaman sekarang. "Dik perubahan begitu mendadak dan mengapit lengan anak-anak kita, mereka bermimpi akan keterbukaan dan kebebasan,  mereka lahir di sini mengendap.., mengerang dan tak jejakpun ba...". selengkapnya di Puisi Perih

Kota dengan ciri Urbanisme dari jejak masalalu, yang berhujan pappaseng dan makkiade', kini dengan gemerlapnya yang memukau tanpa henti siang dan malam,  pastinya bakal menarik perhatian bagi siapa saja. Juga bahwa sekeliling PTB dengan jajaran ruko untuk pusat belanja dan hiburan mengindahkan sebagai tempat favorit juga bagi keluarga untuk meluangkan waktu bersama. Nyelutuk saja bocah itu " emmale 2 tingkat bede kentaki nanti disini di' , itu yang ada kokakolana to..?", si ibu tak menangapi, ia malah bertanya pada teman sampingnya ,"di balu'i ga ya ro bangunang barue..?"

putu cangkiri PTB
Maros perkembangan intensif. Globalisasi dan area Cyber city berdampak sebagai ciri kekotaan yang lebih terbuka menerima teknologi maupun ide-ide dan perubahan budaya baru. Setelah habisnya masa Orde Baru pada tahun 1998, globalisasi disatukan dengan kekuasaan perubahan yang sangat kuat, dengan gejala gerakan reformasi. Tetapi juga bahwa nuansa tempat ini  tanpa disadari, bahwa gejala yang terjadi secara plural akan kebiasaan mencari hiburan malam dapat menyeret ke perbuatan maksiat. Di tempat-tempat hiburan seseorang dapat terseret pada pergaulan bebas, hingga konsumsi narkoba (semoga tidak terjadi) malam dan pinggiran PTB terlebih taman kota tampak  percintaan yang serius oleh pasangan muda-mudi, sesuatu yang tak harus ditutupi atau tabu, Pesan konyol yang tepat adalah  "diharapkan pada wanita muda (pria tak perlu) untuk melindungi keperawanananya sampai menikah", meremang akhir kemarau hingga pada akhirnya terasa juga pedih jiwa dan nyanyian pantai ini tampa suara ombak ?. Menikmati malam di wisata kuliner memang memberikan kesan yang romantis menguatkan suasana bandara untuk kembali ke masa lalu ketika Marusu (kini Maros) menjadi tempat persinggahan atau transit 2 kerajaan besar Bone-Gowa.

waria naik becak di wisata kuliner
Dan malam melebamkan pengunjung yang  nongkrong, temu, dan nge-wisata kuliner, memang merupakan kesenangan, hal yang dapat juga dikategorikan city ​​style atau  soal gaya dan pola hidup, tapi jika itu aku  ya tetep saja in the inside i'm still kampoengan,< pinjam istilah slenk. Haloo titip beli putu cangkiri juga sarabba ..", .sekali saja sebuah motor nyebrang dan nyundul masuk warung uppss...selusin gelas pecah dan kopi di tangan bareng orang berloncatan cari aman...haha....Suara tadi memecahkan suasana obrolan sebagai santapan tambahan, di cafe "daeng pojok" pemilik Dzul zobek, yang mulai nge-cafe di wisata kuliner PTB, taon 2010, dengan gocean awal 75 ribuan hingga genap 3 jutaan. ia mengungkapkan jati dirinya sebagai orang yang penuh spirit tanpa lelah..pada pelayanan, stop!, ternyata waktu menunjukkan pukul 20.00 Wita. Kami sepakat untuk bertemu esok sebab catatan tak selesai .... besok sambung.

{ 0 comments... baca di bawah ini atau tambah komentar }

Posting Komentar