Pergi Jauh adalah Kata Luka dalam Puisi Sedih

Kamis, Juli 30, 2020

Semenjak kau beringsut kelain hati, di situlah batin retak, tak seruang-pun utuh, dan kumpulan puisi ini hanyalah ingin  memastikan apakah luka ini telah sampai batas. Serpihan perih yang tersimpan rapi dalam kotak luka, memelas saat badai sepi datang, sesekali menyeduh sendiri lintasan duka, walau tak bersumpah untuk melupakan terlebih membenci.

Kumpulan antologi Puisi dalam kotak penjara luka, ulasan yang menyimpan kesedihan dengan rapi, tragedi luka dalam kisah : dendang bisik-bisik pasir yang menandai sebuah kapal, katanya "kapal itu berlayar kian jauh.., dilintasinya ujung khatulistiwa, namun melupakan dermaga. Kepergian nan jauh nuansa sedih yang menjelma irama, senandung musik elegi, dihaturkannya nada itu ke segala ruang, namun tanpa pernah sampai pada alamat yang dituju. Demikian sedih, denyut luka itu.  kembali  meremang gulana, ia menyimpan gelisahnya sejak detik jauhmu pergi, dan dengan puisi, ia tak berharap seseorang-pun tahu dan terluka.












Puisi 1."Seperti Hujan kisah kita"
(Silahkan pergi meninggalkan luka, biar hujan
meleburkan kenangan)

Kisah aneh, ketika aku selalu menunggu air turun dari langit, ini bukan "gila",
Karena hujan selalu menjauh ketika rintik menyapa, sementara aku selalu menyambutnya dengan riang, walau hujan belum membasuh rindu kita.

Kau benar tentang hujan, ada aroma tanah yang terjamah
Dan selalu meng-unggah rasa rindu, demikian harap untuk, "kau lupa pada hujan", ia cerita  yang mempertemukan kita, ia kisah yang mengajak tersenyum, ia hujan ?, kita menghitung rintiknya

Dalam deras hujan ini :  tangan kita bergenggaman.
___
*kenangan itu, kenalkan hujan malam hari, pada harapan dan rindu, ia hujan tak pernah lelah turun meski semalam, dan tak pula mengharapkan datangnya pelangi.

















Puisi 2. Rindu dalam Rahim Sunyi
Setelah rindu kau lahirkan pada rahim-rahim sunyi, saat itu aku telah belajar bernyanyi, meniru gema air hujan dan menjelma riak burung-burung pagi yang selalu setia bersabar menuggu matahari, rupanya hanya rabun yang aku pandang, di saat angin-angin pagi begitu ikhlas pergi, dan meninggalkan hujan dan badai.


Puisi 3. Secercah Rindu Tak Berakhir
puisi Oleh: Sangbaco

Masih seputar luka,
Tergeletak, tak berdaya di antara sendu
Isak tangis semakin memekik kalbu
Terbata-bata melisankan perjumpaan angin.

Jauhmu, dan seputar rindu,
lelaki dengan asa di ujung senja, kian rapuh
getir cercah keraguan, antara tetap tinggal
atau menanggung pedih pada buai se-serpih hasrat

Puisi-ku adalah dingin menyeret rindu,
Merampas paksa jiwa, liar penuh kecamuk
"Pergi" nan menahan jengkal langkah dengan tangis
gema hati meraung histeris, berkata "tetaplah di sini"
Di atas rinai hujan yang jatuh tanpa jeda
: Rindu ini belum selesai.



Puisi 4. Luka meng-abu

(ketika hukum tak berpihak pada rakyat, bumi mati sia-sia)

Masih di tanahmu, gerai segala arus mengarung padang tandus, pandang memandang, hadir menghardik, era nyanyian kekuasaan, dan bait-bait sajak jeruji beku di lemari es. Luka meng-abu dan kesejatian hanyalah riwayat dalam jejak lampau. 

Basuhlah dalam rekah bunga pagi, maskipun penantian dan kebosanan sangatlah resah dan hanya jalan tikus. Di rejam kehidupan zaman. Gerak jam adalah detik pasrah. 

Henti tanya, tentang  kesakralan roh, henti cerita tentang rindu. 
Sejak duniawi memoles dirinya sendiri, cuaca hanyalah abu beterbangan, ini wajah arang nan hinggap di rumah-rumah ke asingan, tempat cinta melahirkan kedukaan. "siapa menggantung anak-anak itu", atau mereka bermain gantung-gantungan ?.  

Puisi 5. "Cinta dalam kata Buta"
Senandung lagu sedih, dekap lirih jiwa
Benak menyapa raut wajah yang nyaris tenggelam
Dalam lautan mimpi, seseorang hirup malam basah
bersama hujan, mereguk jejak tanpa nama bahkan tanpa kata

Pencarian yang mencoba membaca arah
Dalam gelap, memanggil cahaya yang tersembunyi di balik aksara
Berdiri sendiri, mencoba telusur rindu, ia di sana 

: terpaku menatap kenangan

Ketika puisi adalah luka ?,

Kemana kau akan berlari, atau mencoba memutar cahaya matahari
"Apalah kau masih terlelap dan terus bermimpi ?"
Memuja cinta tanpa tahu kemanan perginya.

Kenangan hujan memanggilmu sepenuh perih
Meski luka semakin dalam, mengoyak

Apa lagi selain, menjauh dari putaran waktu masa lalu
atau pada bulan di sana,  masihkah  merindu ?
Terpikir untuk kembali,  tanpa hapus tangisan hujan ini.

Puisi 6. " Jauh-mu" dalam Kata
Di sini  sunyi juga mimpi merayuku,  di sana hujan jatuh mengalir bergantian seperti biji musim yang jatuh, betapa jauhmu, telah cukup !, Luka tak lagi terasa.


Aroma itu, waktu dalam senja terbenam
Hujan yang rintiknya menjelaskan lukisan wajah
Tapi itu dulu, kini tanah basah menutupi jejak menjadi puisi dalam luka
Kau menjauh seolah rintik hujan pergi bersamamu
Memisah dan berganti air mata



Puisi 7. Lukisan Duka
Mencari-cari dibalik ketebalan awan, padahal kau angin yang mengeos antara gunung dan bukit, betapa rahasia rindu itu, ia tertatih-tatih melemah lalu  hilang, sebegini sepi...sebegitu luka, Aku terhimpit kebisuan, kulukis wajahmu dalam segala sudut, padahal kau angin dibalik ketebalan awan, aku menyeruak.



Puisi 8. " Seberap luka, tetap setumpuk Asa
(ketika Rindu membuat tak berhenti)

Dulu wajahmu, semburat merah jingga nan elok
lembutmu gumpalan kapas bersanding cakrawala
Tapi Tetes kehidupan tak selalu demikian ?

Harapan hanya Impresi menguap di atas tanah
Larut bersama kepasrahan, melupa cinta dalam wewangian

Jangan, tersemat manis indahnya janji masa depan
kebahagiaan semu berselimut dalam segala tanya dan persimpangan

Kini, pintu-pintu adalah nestapa
Menatap seruan luka yang menyayat jiwa
Menusuk hingga rindu menyeruak keluar
Dengan seribu  tarikan napas "antara mati atau rindu belum berakhir ?"

Analisis Puisi
Jauh Pergimu adalah Kata Luka dalam Puisi Sedih

Puisi tautkan Hujan, ulasan kata anonim pilihan item serupa turunnya air dari langit yang kita namai hujan merupakan salah satu rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, yang membawa banyak manfaat bagi kehidupan dan patut kita syukuri. Dengan hujan sebagai tema sastra, maka kehidupan di muka bumi senantiasa tercukupi.

Di kalangan penulis muda kampus dan tokoh syair dan sastrawan, hujan menyimpan kesan tersendiri. Hujan bagai seribu perihal menjadi terkait dan f
enomena alam ini, tercipta puisi, catatan, syair esai bahkan berita. Terlebih jika mengemas dalam memori kenangan, suasana hati akan tercurah segalanya bak tampungan kata dalam telaga pustaka.

Berikut kumpulan puisi sedih, melukiskan suasana hatimu dengan obyek hujan, sebagai metafora membangun peristiwa, menguatkan dinamika kisah dan cerita. 


Puisi 9. Selaksa sepi aku menanti

rindu meruah seperti air menghujam sendu,
Terus jatuh mengalir keluh, sepi dengan teriak pilu,
Tak kedengar alunan jiwa dalam surau, roh rindu termenung kelabu
Menunggu cinta semanis madu, Hingga usai balutan waktu,

Hujan seminggu berlalu :Tersisa sedih nan syahdu.

Jauhmu adalah kanvas, antara kuas dan cet 

lihatlah, jemari ku ilusi tarian hujan
kan melukis kisah sungai hingga muara
Akan buatkan bendungan yang dipenuhi cinta
lalu memenuhi telaga dengan rintik rindu

Dikepergian-mu, ajari aku cipta puisi
Agar aku bisa mengobati haus ini dengan kata
dan dentuman rindu mengalun di tiap kalimat
hingga bahasa mengalirkan kesejukan yang memenuh semesta

Ijinkan aku menjadi puisi
Aku ingin persembahkan musikalisasi dengan syair haru
Membuat alunan tentang dingin malam, dan 

senandung pada di ujung pelangi
Saat aku menjadi puisi
Tak ada petir yang membuatmu benci akan diriku.


Segaris luka dalam Memori
Menempa kisah di musim penghujan : Basah?
Aku kata dalam segala basah, rindu ini gigil, 


sepi dan rindu meruang segenggam tanganmu
Jelas terlihat, aku jemari dingin di tangan hangatmu
bila memori derasnya hujan mengulang daun pisang
Antara aku, kau, tentu tak luka pun puisi sepi tercipta. 


Puisi 10. "Musim Berselimut Duka"
Sejak pejabat korupsi

dan rakyat menangis bak jelata
Rangkaian kata kususun menjadi aksara
Bercerita tentang musim berselimut duka
Di mana senja tak lagi jingga
DI mana mentari enggan menatap bumi

Kala itu, 

langit menangis berlinang air mata
awan hilir mudik bagai badai, 
Guntur meraung meranggaskan pohon
insiden apa lagi ? Indonesia tak ber-perih.


Sajak 11."Air mata tumpah di gelas"
Air matamu tumpah lagi di gelasku
dan aku mesti mengenyam setiap teguknya
ini sisa-sisa kesedihanmu yang kesekian kali.

Malam ini, aku kembali memelukmu dalam diam
aku kuatir, lalu  air matamu hujan memenuh belanga

Ada gigil dalam setiap luka batinmu
tak bisa aku melesat keluar jendela
dan aku hanya sibuk merapikan sesak

di sekian kali air matamu tertumpah.

Puisi 12. Se-Jauh Rintik Rindu ini
Lembar keenam, kumulai lagi dengan mengingatmu
Tentang rinduku yang belum tersampaikan
Kala percik-percik gerimis menyapaku
Di antara aroma remahan tanah yang basah
Betapa sulitnya itu, Begitu berat menahan lajunya…

Entah, di rintik keberapa, Ku ‘kan mengeja bayangmu
Membahasakan senyummu saat itu
Di sini pun masih terasa sama, Hampa, serupa kesendirian
Hingga tak sanggup lagi, hatiku menahan keingkaran ini…

Andai saja mampu menghalau lajunya waktu
Andai saja saat itu, tak bersumpah untuk membencimu.

Tentu rintik rindu ini : Kisah menunggumu.

Beberapa puisi ditulis ulang dari buku 

Bait Kisah di Musim Hujan: Antalogi Puisi. Penulis Banda Aceh

Puisi 13. Rinai Memberai
Puisi Peti Rahmalina

Rinai datang padaku pada saat diri tengah menepi
Renyai senyawa hidrat memecah sunyi
Segala impresi tentangnya menguar memenuhi imaji
Kembali pada ilusi tuk berpuisi

Rangkaian asa yang kucipta terverai
Dia pergi ketika rinai datang memenuhi semesta tak berisi
Serenada pilu mencipta elegi
Nyeri yang kau berikan, kuresapi dalam-dalam saat hujan
Sembilu menjalar setiap kali rinai berjatuhan
Sembunyikan air mata redam jerit kekecewaan
Dalam cinta yang tiada berupa
Rinai memberai

Rinai memberai asa
Dalam rindu yang membuat tiada
Rinai memberi asa
Jadi tiada yang membuat rindu. [*]













Puisi 14. Puisi hujan dan senja
Sajak Pertemuan Hujan dan Senja
Oleh: Windarsih

Guguran air menyelubungi rona pipi senja
Mengembang senyum sepasang insan bertudung payung jingga
Bumi sudah dijamah resapan manis hujan senja
Usapan tangan di kala pintu-pintu langit terbuka
Magis hujan meniduri relung-relung kerinduan

Pertemuan perpisahan silih berganti tanpa salam
Bagai sebujur kilat membelah angkasa tak pedulikan masa
Setara air hujan kala rasa menjatuhkan lara
Menatap hitam pemegang gagang payung jingga

Kularang melangkah sebelum tangis hujan reda
Mencari bening di antara helai rambut legammu
Mendaratkan rindu semasa kemarau bertahta padaku
Sajak pertemuan di bawah kembang payung hujan

Teduhkan jiwa dua insan pemuja ritme tetesan
Memori penghujung Desember pelukan batas senja
Engkau dan aku meniduri rasa manis air dirgantara. [*]
_____


Puisi 15. 
Oleh: Jannatul Ula.
Titisan Hujan Bersama Nyanyian Syahdu

Kilau mentari menyinari bumi dengan tandus alam yang menerjang
Seketika awan berubah wujud menjadi mangsa kegelapan
Mengharapkan curahan air yang menabur
Rintihan suci menghidupkan dunia indah nan syahdu

Memanggil cinta bagai akar menjalar untuk tetap bersemi
Menghias bunga mekar diiringi musik gemercikanmu dari kelayuan
Menghias alam dengan biasan mentari
Sebagai tangga cinta sang bidadari
Butiran embun menempel di ujung dedaunan
Membentuk indah bagai mutiara bening

Baca juga:  Puisi Untuk Ibu Kartini
Rintihan hujan butir suaramu menyejukkan imajiku
Dalam keheningan anganku terbang entah kemana bersama angin
Membuat tubuh ini membeku
Dengan hawa yang kau curahkan. [*]

Puisi 16. 

Puisi "Kenyataan di Balik Hujan"
Karya; Tista Apriyandani

Pergilah….!
Ujarku membara laksana petir membelah sunyi
Kian dusta terlanjur kau hembas melukai hati
Ku tak pikir sejauh apa langkah kaki pergi
Melambai pergi raga tenggelam tak peduli

Surat terbuang…
Secarik kertas teruntai menari di atas pena
Hujan bersaksi dikau menusuk jantung mata
Sedih di kala duka hamba menyapa relung raga
Berpaling kau pergi silakan saja hatiku rela

Bersabar…
Insan hati terkelupas Sang sarang perih terluka
Tinggalkan dikau bagai telur pecah tak berguna
mencintaimu laksana jasad di balik keranda
Relung menangis kian terpecah sakit merana

Tak peduli…
Berlarilah sebahagia kau kejar kapas berkabur
Enggan ku lari melangkah menggapai gerimis cinta
Sesak hati mengema kaku tenggelam dalam kubur
Bibir tak sudi berampun dikau kejam seribu dusta. [*]













Puisi 17.  "Kisahku Tak Merindu Hujan"
Karya pena : Bukamaruddin

Aku adalah tanah kota
kemarau abadi yang dihampiri aspal dan beton

Aku tak bisa lagi menjadi laki-laki peneduh
seperti pohon di pinggir jalan yang sekarang enggan berdaun

Aku tak bisa lagi menjadi laki-laki lumpur
seperti kesederhanaan tanah dan kenangannya

Di sini kisah kasih membantu
tunggu tak lagi patuh
rindu tak lagi butuh

Jika engkau memang tiba
maka kuminta gerimismu
karena hanya itu yang membuatku tak meluap

Jika engkau tetap datang
maka kucinta pelangimu
karena hanya itu yang tak membuatku mengeluh. [*]
____
Puisi 18. 

"Kita Adalah Aku dan kamu Saja"
Oleh: Riris Ariska

Dulu ratusan sajak kutulis karenamu
Ribuan kata kusampaikan padamu
Milyaran mimpi terangkai atas kamu
Dulu sebelum kita kepada aku dan kamu saja
Aku tak ingin lupa, Rasa penuh yang masih senja
Meski gelap akan datang, dan badai menghempas,


Pada hujan kau kan kulebur
Walau Aku tetap dingin memeluk,
biar dibasah memori terangkut, biar hujan jatuh dan banjir tak

kunjung surut, aku tak akan larut seperti gula yang kau aduk. [*]

Anggap Saja Hujan ini Adalah Aku, dan kenangan,
meski rintik sedetik, tapi mampu mengingatkan

Anggap saja hujan ini adalah kerinduan,
meski rintik setitik, tapi mampu mempertemukan

Anggap saja hujan ini adalah aku,
meski sudah tak lagi deras, tapi tetap membekas. [**]
_____


Puisi 19. Halte Persimpangan
Oleh: Rizqi Amalia

Di bawah rintik hujan
Berpayung langit hitam
Aku berjalan memungut puing-puing kenangan
Sebuah pertemuan di halte perpisahan

Seulas senyum tercipta oleh tatapan mata tanpa sengaja
Sepatah sapa memecah keheningan, berharap hujan enggan tuk reda
Tanpa terasa detak dada berdecak tak semestinya

Semusim telah berlalu, menelan detik yang melaju
Tentangmu, membingkai sisi kalbu, engkau siluet senyum 

memahat rindu, Namun kehilangan mendahului temu

Selepas engkau tiada, Hujan tak lagi sama, Rintiknya mem-

bawa aroma kamboja, segenggam ikhlas melepas langkahmu di alam sana.


Puisi 20.  "Menikmati Tamparan Hujan"

Karya | Nani Andriani

Saat hujan melanda negeriku, 
Seolah candu aku berlari 
tanpa malu, Menikmati indahnya penorama alamiah, Derasnya 
hujan membasahi tubuh, memikat rindu
Telentangkan kedua sudut tanganku, Menari-nari layaknya
bocah kerdil, Di bawah guyuran air bah langit


Kuterdiam di jalanan sepi
Menikmati setiap jengkal tamparan mega, Menyentuh pori-pori
Kutengadahkan wajah polos, Menyambut datangnya air kehidupan
Kupejamkan mata lentikku, Meresapi rintikan air yang menjatuhiku

Kulangkahkan kaki menjelajahi pertiwi, Bersama hujan
___

Puisi 21 
Hujan |Air mata & Lubuk hati

Hujan ini turun, untuk kesekian kali
mengingatkanmu, mengingatkanku
tentang rintik, soal waktu yang sedetik

Hujan ini turun lagi, menetesi kedua pipi
membasahimu, membasahiku
tentang kenang : soal airmata yang berlinang

Hujan ini turun lagi, dari kata yang kau namakan puisi
namamu, namaku, tentang cinta, soal rasa yang pernah

singgah, Hujan ini turun lagi, membekas di lubuk hati. [**]
_____


Puisi 22. Puisi Pendek 

"A"
Dahulu, rapal cinta di senja basah, Adalah kita saling menyapa
Lewat tatap mata, Lalui kata tanpa suara.


"B"
Jingga itu menggoda
Jejak kita yang tanpa sisa, Pada hujan senja itu, Kugantung harap tanpa semu
“Jika kita adalah takdir, Datanglah dengan cinta tanpa khawatir.”

"C"
Rintik yang jatuh di senyummu, Membuatku cemburu
“Ingin sekali mendekap lesung pipi, Yang begitu tampan itu”.
Kini, senja itu masih basah, Namun cinta kita, yang tertinggal hanya kisah.

___

Puisi 23. Aku rindu hujan
di tiap-tiap tetesan; pada matamu
adalah langit kesunyian

aku rindu hujan, di tiap-tiap percikan;
pada detakmu, gemuruh keheningan

aku rindu dirimu, di tiap-tiap hujan;
pada namamu, menderas kerinduan [**]


Puisi 24. Hujan kematian
Oleh: Lulu’atul Puadiya

Tanduk merunduk menguntai zikir kematian
Tertunduk di barisan para prajurit
untaian deru hujan membasahi tubuh kumalnya
Simbahan lumpur mulai menjalar baik sungai tanpa jejak
Sajak tangisan terdengar dari lubang tak bertulangnya

Miris…
Sebuah penantian terpaksa di tengah tangis hujan
Zikir kematian semakin dekat, Kala sang jubah kebesaran berdiri
Bak cagak mencagak tubuh tak berdaya itu, Tangisan itu hancur lebur
Lidah tak bertulang itu tergetar, menahan perihnya gejolak kematian. [*]
___


Puisi 25. Saat Merindumu
Merindumu adalah menemu sunyi terdalam
seperti gerimis menjumpai tangis
serupa puisi; sebait kata pada tubuh sepi
adalah dirinya sendiri

Merindumu adalah menemu sunyi, seperti detak dalam tubuh sajak
serupa bunyi;rima yang tak henti-henti :Menyeru namanya sendiri.
___


Puisi 26. Mutiara Kecil
Oleh: Endang Kurniawan

Lihatlah rintikan hujan yang berirama
Mengantarkan sebuah kisah dalam drama
Kesejukannya menghapus segala bentuk kesedihan
butiran-butirannya melukiskan bait yang sedang berjajar

Kebahagiaan ini takkan pernah lepas rindu
Saat mutiara kecil mengalir indah di wajahmu
Hingga jari-jari mungil ini berpijak seraya bertumpu meng-

usap lembutnya lapisan permukaan nan sejuk.

Langit pun menangis di saat wajahmu mengalirkan air mata
Kisahnya seolah tampak, namun tak terlihat
Mutiara kecilnya mengalir mengantarkan sejuta harapan
Harapan yang dahulu kutuliskan dalam bait kisah

Mutiara kecil di wajahmu, Bercahaya layaknya mentari di 

siang kelabu, Kisahnya penuh kenangan manis seperti madu
Hingga tak disadari jiwa kehilangan rindu.


Add caption















Puisi 27: Jauhmu dalam Raung waktu 
Jauh waktu berlalu meninggalkan luka
Kemarau yang mendera meraung puisi
Kesal pohon-pohon menyembunyikan dahan
Rumput kering menahan rindu mendera

Bilakah hujan datang menghampiri
Walau dengan rinai kecil, dan luka tak selalu sebab waktu
dan pergi, jauhmu bukan cacian

Puisi 28. Kata hujan di suatu sore

/1/
Ditabur hujan kesunyian sore ini
menderas pada getar kata
sajak-sajak ditulis menepis sepi
melebur jarak dirinya

bunga-bunga tumbuh
di antara jendela, kursi, dan meja
pasti dikenalnya rindu
merekah pada nafasmu

ujung-ujung jari yang sedari dulu
–menyentuhnya, melebur pada detak waktu

/2/
hujan kesunyian,
tidakkah kau dengar puisi
suara sepi
pada pertemuan ini

sajak yang ditulis tak pernah terbaca
sebab rindu selalu membuat kita lupa

lalu, kembali
hujan menulis puisi –lagi
di setiap rintiknya
di antara jendela, kursi dan meja
– tentang bunga-bunga

/3/
dan begitu saja
pada suatu sore ini
hujan yang menderas
sajak-sajak yang tak terbaca

hingga sampai pada sunyi
aku masih sendiri
di kursi ini
berteduh pada puisi
dari hujan sore ini.

Puisi 29. Kau Pikir Hujannya Telah Redah
Oleh: Mohammad Roni Sianturi

Kau pikir hujannya telah reda begitu saja, kawan?
Kau pikir tidak ada sisa?
Ah,
Menyisakan genangan di hati.
Esok, lusa, dan akan kuingat genangan air ini
Betapa basah hatinya; tergenang sedih kata
Yang kau katakan sendiri
Di depan mata dan telinga.

Kawan,
Kau pikir hujannya telah redah,
kau tak sadar; airnya menggenang luka di hati
Kata yang kau kata; abadi
Dan kini; kau hanya menatap jauh
Pura-pura lupa dan suka berbasa-basi

Perih dan pedih…
Kata-katamu menggenang; menyayat hati
. [*]

Puisi 30. Hujan Malam Ini
Hujan malam ini
menetes dari pipimu
mengalir di pelupuk sunyi
membasahi detak waktu

Jejak-jejak
menulis sajak
di hujan malam ini
air matanya sendiri

Barangkali matamu dan mata hujan
adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan
serupa api kepada abu
seperti aku kepada kamu. 












Puisi Kisah balada 31.
"Pergi dalam Larung Dingin"
(Bisulah rindu itu ketika tak seruang-pun kau membayang)

Pergimu adalah ayunan langkah, dalam helaan napas yang tertahan, semakin dalam desir angan, desah hati kian menjauh, membiru

Entah harap, entah khayal, tapi jauhmu tetap genggam kata dalam hujan
tetes hujan yang paham, arti kata luka tak terucap, dengan selaksa makna terjawab.



Alamat se-kisah dengan hujan : Datang dan pergi tanpa pamit
me-sisa : dingin 

_____
Sangbaco
Pergi jauh adalah adalah Kata Luka dalam Puisi Sedih, by Antologi puisi.

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images